<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Zev in Love</title>
	<atom:link href="http://www.zeventina.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.zeventina.com</link>
	<description>A collection of romantic words of love..</description>
	<lastBuildDate>Sun, 06 May 2012 03:34:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
		<item>
		<title>5 Kelebihan Wanita Dibanding Pria</title>
		<link>http://www.zeventina.com/2011/12/04/5-kelebihan-wanita-dibanding-pria/</link>
		<comments>http://www.zeventina.com/2011/12/04/5-kelebihan-wanita-dibanding-pria/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 02:49:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[fakta tentang wanita]]></category>
		<category><![CDATA[keunggulan wanita]]></category>
		<category><![CDATA[zeventina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zeventina.com/?p=247</guid>
		<description><![CDATA[1. Ketabahan Dalam hal ketabahan biasanya wanita lebih tabah daripada pria. Mungkin karena wanita sudah &#8220;terlatih&#8221; diberi hadiah menikmati indahnya kesakitan saat melahirkan. Wanita walau secara fisik terlihat lemah, tetapi mempunyai sistem kekebalan tubuh yang [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.zeventina.com/wp-content/uploads/2011/12/1458d675e255c9ac.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-248" title="1458d675e255c9ac" src="http://www.zeventina.com/wp-content/uploads/2011/12/1458d675e255c9ac-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p>1. Ketabahan</p>
<p>Dalam hal ketabahan biasanya wanita lebih tabah daripada pria. Mungkin karena wanita sudah &#8220;terlatih&#8221; diberi hadiah menikmati indahnya kesakitan saat melahirkan. Wanita walau secara fisik terlihat lemah, tetapi mempunyai sistem kekebalan tubuh yang lebih kuat. Wanita memiliki hormon estrogen. Penelitian dari McGill University, Kanada, menunjukkan bahwa estrogen dapat mengatasi enzim yang mengganggu pertahanan tubuh terhadap bakteri dan virus.</p>
<p><span id="more-247"></span></p>
<p>2. Kehati-hatian</p>
<p>Dalam hal mengendarai mobil, wanita terbukti lebih berhati-hati. Berdasar survey di Universitas Carnegie Mellon, Pittsburgh, Amerika Serikat, laki-laki 77 persen lebih berisiko meninggal dalam kecelakaan mobil dibanding<br />
wanita. Jadi wahai para lelaki,  hargailah kecerewetan wanita saat memintamu mengenakan sabuk pengaman.</p>
<p>3. Panjang Umur</p>
<p>Di dunia ini, 85 persen manusia berumur lebih dari 100 tahun adalah wanita. Menurut penelitian New England Centenarian, umumnya wanita hidup lima hingga 10 tahun lebih lama dibanding pria.</p>
<p>4. Kepemimpinan</p>
<p>Di dunia kerja, wanita lebih dapat menjadi pemimpin yang baik. Wanita adalah pendengar dan mentor yang lebih baik, yang terbiasa mengerjakan banyak hal sekaligus. Menurut Daily News, perekonomian lebih berorientasi pada pelayanan, sehingga karyawan yang bisa menjadi penyemangat lebih diperlukan. Wanita dinilai sebagai penghubung yang lebih baik dibanding pria, serta lebih lihai dalam memberikan semangat pada karyawan.</p>
<p>5. Investasi</p>
<p>Wanita lebih pandai menabung. Dalam penelitian pada 100 ribu portofolio, investasi wanita lebih sukses dibandingkan investasi  pria dengan perbandingannya adalah 18 persen dibanding 11 persen. Mungkin karena wanita lebih berhati-hati dalam membuat keputusan.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zeventina.com/2011/12/04/5-kelebihan-wanita-dibanding-pria/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pesan Terakhirku</title>
		<link>http://www.zeventina.com/2011/11/23/pesan-terakhirku/</link>
		<comments>http://www.zeventina.com/2011/11/23/pesan-terakhirku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 10:37:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Flash Fiction]]></category>
		<category><![CDATA[surat cinta]]></category>
		<category><![CDATA[ztrawberry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zeventina.com/?p=241</guid>
		<description><![CDATA[Setelah aku tiada, maukah kau simpan cintaku. Bukan untuk membelenggumu, tetapi sekedar untuk menghangatkan api, yang dahulu pernah menyala di hatimu. Api membara sekuat kematian, namun menyentuh seindah rekahan mawar di tamanku. Dulu, kau pernah [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.zeventina.com/wp-content/uploads/2011/11/untitled-5.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-242" title="untitled-5" src="http://www.zeventina.com/wp-content/uploads/2011/11/untitled-5-256x300.jpg" alt="" width="256" height="300" /></a></p>
<p>Setelah aku tiada, maukah kau simpan cintaku. Bukan untuk membelenggumu, tetapi sekedar untuk menghangatkan api, yang dahulu pernah menyala di hatimu. Api membara sekuat kematian, namun menyentuh seindah rekahan mawar di tamanku.</p>
<p>Dulu, kau pernah mengajari aku cara menyentuh rahasia-rahasia kehidupan. Menguak hal-hal yang sebelumnya tak pernah terlintas dalam pikiran. Kini setelah terhanyut, waktu memaksa kita mengubahnya menjadi kenangan.</p>
<p><span id="more-241"></span></p>
<p>Apa arti sebuah kenangan, selain butiran-butiran bening yang menetes, dan kesakitan saat mengenangnya? Setelah sang waktu begitu kejam mengubah keindahan menjadi kenangan, apakah kau masih dapat melihatnya sebagai sebuah keindahan, tanpa kesakitan?</p>
<p>Aku bersyukur mengenalmu, dan berterimakasih pada pandangan-pandangan filosofismu. Sayang ada yang lupa kau ajarkan padaku: Bagaimana cara menghentikan airmata yang tak bisa berhenti mengalir ini..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Z</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zeventina.com/2011/11/23/pesan-terakhirku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Untuk Dicintai Pasangan</title>
		<link>http://www.zeventina.com/2011/11/11/tips-untuk-dicintai-pasangan/</link>
		<comments>http://www.zeventina.com/2011/11/11/tips-untuk-dicintai-pasangan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Nov 2011 01:38:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tips]]></category>
		<category><![CDATA[Cara agar dicintai]]></category>
		<category><![CDATA[Tips Dicintai]]></category>
		<category><![CDATA[zeventina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zeventina.com/?p=232</guid>
		<description><![CDATA[Dalam hidup seringkali kita melihat hubungan percintaan beberapa pasangan yang bahagia hingga usia senja. Namun di sisi lain kita juga sering melihat beberapa pasangan yang gagal membina hubungan. Mengapa bisa begitu? Bagaimana menjadi orang yang [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.zeventina.com/wp-content/uploads/2011/11/200276802-001.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-238" title="200276802-001" src="http://www.zeventina.com/wp-content/uploads/2011/11/200276802-001-224x300.jpg" alt="" width="224" height="300" /></a></p>
<p>Dalam hidup seringkali kita melihat hubungan percintaan beberapa pasangan yang bahagia hingga usia senja. Namun di sisi lain kita juga sering melihat beberapa pasangan yang gagal membina hubungan. Mengapa bisa begitu? Bagaimana menjadi orang yang dicintai sepenuh hati oleh pasangan? Bagaimana agar hubungan kita tetap mesra hingga maut memisahkan?</p>
<p><span id="more-232"></span></p>
<p>Syarat mutlak untuk dicintai adalah kerelaan untuk mencintai terlebih dahulu. Jangan pernah berpikir kamu akan dicintai, jika kamupun pelit memberikan cinta. Berikut adalah tips untuk dicintai pasangan sepenuh hati.</p>
<ol>
<li>Pahami kebutuhan-kebutuhannya. Pekalah terhadap apa yang disukainya. Jangan lakukan hal yang dibencinya tetapi penuhi hal-hal yang membuatnya senang. Ciptakan suasana agar disismu, dia seperti berada di zona nyaman.</li>
<li>Berpikirlah bahwa dengan membahagiakannya, kamu akan ikut berbahagia. Maka berusahalah untuk membahagiakannya terlebih dahulu.</li>
<li>Beri dukungan penuh terhadap pekerjaannya. Peran pasangan sangat berpengaruh dalam kesuksesan. Ingatlah bahwa jika dia maju, kamupun akan ikut maju. Betapa indah jika kalian maju bersama, merintis dari nol untuk kemudian sukses bersama.</li>
<li>Buatlah agar rindu selalu hangat membara. Jangan ragu untuk mengungkapkan rindu saat kalian berjauhan. Sering-seringlah berhubungan lewat doa, telepon, chat atau alat komunikasi lain dan sisipkan obrolan-obrolan mesra, yang dapat membuatnya merindukan kehangatanmu.</li>
<li>Jika ada kesalahan, berusahalah untuk mau memaafkan. Sadarkanlah dia dengan penuh kelembutan. Cinta adalah saling mengoreksi. Hal yang paling penting adalah, jaga emosimu. Jangan pernah mengancam putus atau cerai saat dalam keadaan marah. Tahan emosimu sebisa mungkin dan berpikir bahwa kemarahan adalah bagian manis dari perjalanan.</li>
<li>Hargai kepribadiannya, dan istimewakan dia. Perlakukanlah dia sebagai belahan jiwa, yang saat dia sakit, kamupun bisa ikut merasakan kesakitannya.</li>
<li>Cinta ibarat two in one. Dua dalam satu, jadi usahakan agar walau jarak kalian jauh, hati kalian tetap satu. Jangan pernah merendahkan atau menjelek-jelekan pasangan kepada pihak lain. Hal itu akan sangat merendahkan dan membuat kepercayaannya hilang terhadapmu.</li>
<li>Cemburui dia sewajarnya saja, jangan berlebihan. Cemburu itu sesekali perlu juga untuk menciptakan percikan-percikan kecil penambah hangat hubungan.</li>
<li>Cintai keluarganya juga. Jadikan mereka seperti keluargamu sendiri. Kompaklah, sebab dengan berbaur menjadi satu keluarga besar, pasanganmu akan merasa sangat nyaman berada di sisimu.</li>
<li>Lakukan inovasi-inovasi di tempat tidur. Ini khusus untuk pasangan yang sudah menikah. jadikan sex sebagai rekreasi yang iindah.</li>
</ol>
<p>Demikian tips sederhana untuk dicintai. Semoga bermanfaat dan dapat menjadikan hubungan kalian harmonis hingga selama-lamanya.</p>
<p>Zev</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zeventina.com/2011/11/11/tips-untuk-dicintai-pasangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Mendakwa Hamka Plagiat</title>
		<link>http://www.zeventina.com/2011/11/11/aku-mendakwa-hamka-plagiat/</link>
		<comments>http://www.zeventina.com/2011/11/11/aku-mendakwa-hamka-plagiat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Nov 2011 00:49:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi]]></category>
		<category><![CDATA[Hamka]]></category>
		<category><![CDATA[Hernadi Tanzil]]></category>
		<category><![CDATA[Plagiat]]></category>
		<category><![CDATA[Skandal Sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zeventina.com/?p=217</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Hernadi Tanzil [No. 273] Judul : Aku Mendakwa Hamka Plagiat &#8211; Skandal Sastra Indonesia 1962-1964 Penulis : Muhidin M Dahlan Penerbit : Scripta Manent &#38; Merakesumba Cetakan : I, Sept 2011 Tebal : 238 [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.zeventina.com/wp-content/uploads/2011/11/hamka2.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-223" title="hamka2" src="http://www.zeventina.com/wp-content/uploads/2011/11/hamka2-187x300.jpg" alt="" width="187" height="300" /></a></p>
<p><a href="http://www.zeventina.com/wp-content/uploads/2011/11/anak-rembulan.jpg"><br />
</a>Oleh: Hernadi Tanzil</p>
<p>[No. 273]<br />
Judul : Aku Mendakwa Hamka Plagiat &#8211; Skandal Sastra Indonesia 1962-1964<br />
Penulis : Muhidin M Dahlan<br />
Penerbit : Scripta Manent &amp; Merakesumba<br />
Cetakan : I, Sept 2011<br />
Tebal : 238 hlm</p>
<p>“Aku Mendakwa Hamka Plagiat!” , demikian judul resensi-essei yang ditulis oleh Abdullah SP di harian Bintang Timur “Lentera” 7 September 1962. Sebuah judul yang provokatif di jaman yang memang sedang bergolak di tahun 60an. Resensi yang ditulis oleh Abdullah SP itu menjadi salah satu resensi yang melegenda selama bertahun-tahun dan nyaris mengambil separuh halaman “Lentera “ Bintang Timur saat itu. Tidak hanya itu saja, resensi itu juga menjadi penyulut munculnya dugaan plagiarisme Hamka dan menjadi skandal sastra terbesar dalam sejarah Sastra Indonesia.</p>
<p><span id="more-217"></span></p>
<p>Siapa Hamka yang dimaksud Abdullah SP? Hamka adalah akronim dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah (1908-1981) atau yang lebih akrab disapa ‘Buya Hamka’ seorang sastrawan yang dikemudian hari lebih dikenal sebagai ulama besar di Indonesia dan pernah menjadi Menteri Agama dan ketua MUI di masa Orde Baru. Dalam resensi-essai nya itu Abdullah SP mengurai sekaligus membandingkan bagaimana novel best seller Hamka (dicetak sebanyak 80 rb eks) <em>Tenggelamnya Kapal v.d Wijk</em> (1938) memiliki banyak sekali kemiripan dengan novel <em>Magdalena</em> yang merupakan saduran penyair Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi (1876-1942) dari roman yang ditulis pengarang Prancis Alphonse Karr, <em>Sous les Tilleuls </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Resensi tersebut akhirnya memunculkan isu plagiarisme Hamka menjadi sebuah skandal sastra yang menjadi polemik hingga dua tahun lamanya (1962-1964). Kubu sastra Indonesia di saat itu terbelah menjadi dua, antara mereka yang mendukung pendapat Abdullah SP dan kubu yang membela Hamka yang dikomandoi oleh HB Jassin dan kawan-kawannya. Selain resensi tersebut salah satu sebab yang juga membuat isu ini menggulir menjadi sebuah skandal besar tentu saja peran harian Bintang Timur dalam lembar kebudayaan Lentera yang diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer yang dengan intens menyediakan kolom khusus berjudul “Varia Hamka” yang menampung semua pendapat pembaca untuk menanggapi isu ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Skandal plagiarisme Hamka yang terekam di lembar-lembar Bintang Timur/Lentera sudah sulit ditemukan, kalaupun masih ada mungkin sudah hampir lapuk dimakan usia dan tercecer di berbagai tempat. Skandal terbesar di dunia sastra ini hampir saja terkubur selama-selamanya dan hilang dari ingatan kita kalau saja buku <em>Aku Mendakwa Hamka Plagiat – Skandal Sastra Indonesia 1962-1964 </em>yang disusun oleh Muhidin M Dahlan, kerani Indonesia Buku ini terbit beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>Kehadiran buku ini patut diapresiasi karena dengan ketekunan seorang kerani sejati, Muhidin rela membuka-buka lembar2 Bintang timur yang sudah menguning dan berbau apek untuk mendokumentasikan dan menyatukan kembali halaman-halaman lepas yang tersebar di Bintang Timur/Lentera antara 1962-1964 agar kembali diingat dan dibaca oleh generasi kini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Secara terstrukur buku ini mencoba mengetengahkan kembali skandal plagiarisme Hamka ke hadapan pembacanya, dimulai dari sinopsis Tenggelamnya Kapal v.d Wijk, resensi-essei pertama dari Abdullah SP yang menyulut kehebohan dunia sastra di tahun 60an, kedudukan Hamka dalam peta sastra Indonesia, bukti-bukti plagiat Hamka, pendapat dan pembelaan HB Jassin terhadap Hamka, dan bab penutup yang mengaitkan isu plagiarisme Hamka dengan isu plagiarisme teraktual di dunia sastra Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam bahasan-bahasan di atas, hampir semuanya menarik untuk disimak, dalam buku ini terlihat jelas bagaimana isu yang dilemparkan Abdullah SP ini bukannya tanpa dasar atau sekedar asumsi kosong tanpa dasar, semua pendapat Abdullah SP disertai bukti-bukti dan perbandingan yang ketat dan ilmiah sehingga Abdullah SP kukuh pada pendiriannya bahwa Hamka adalah Plagiator!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Abdullah SP tidak hanya menurunkan resensi yang berbentuk narasi, melainkan juga menggunakan metode “idea-script” dan “idea-sketch” yang membandingkan dua roman itu dengan detail dalam beberapa bagian dalam bentuk tabel perbandingan. Yang menarik, di masa itu penggunaan metode ini baru pertama kalinya digunakan dalam sejarah Sastra Indonesia dalam mencari kemiripan antara novel Hamka dengan novel Al-Manfaluthi. Hal ini berarti dimulainya sebuah babak baru dalam sejarah sastra Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain membeberkan analisa Abdullah SP dalam resensi-essai nya, buku ini juga mengutip pendapat para pembaca harian Bintang Timur/Lentera dalam kolom “Varia Hamka” yang memang disediakan oleh redaksinya untuk menampung semua pendapat pembaca dalam kasus Hamka termasuk tulisan-tulisan yang membela Hamka yang dibuat HB Jassin bersama teman-temannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam salah satu pembelaannya HB Jassin mengusulkan agar novel Magdalena yang ditulis oleh Mustafa Lutfi Al-Manfaluthi dalam bahasa Arab itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk mendapat perbandingang yang obyektif. Sesuai dengan saran HB Jassin, novel tersebut akhirnya diterjemahkan oleh AS. Alatas dan diterbitkan dengan judul Magdalena (Dibawah Naungan Pohon Tilita) pd tahun 1963. Sebenarnya setahun sebelumnya Magdalena diterjemahkan oleh A.S. Alatas , novel tersebut telah diterjemahkan oleh A.S. Patmaji dan dimuat secara bersambung di Bintang Timur. Bagian dari kedua versi terjemahannya ini (Jusuf Hamzah vs A.S alatas) juga disandingkan dalam buku ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dengan diterbitkannya terjemahan Magdalena oleh AS. Alatas, HB Jassin menggunakan kesempatan ini untuk memberikan pembelaannya yang dimuat dalam kata pengantarnya sebagai berikut :</p>
<p>Pada Hamka ada pengaruh Al-Manfaluthi. Ada garis2 persamaan tema, plot dan buah pikiran, tapi jelas bahwa Hamka menimba dari sumber pengalaman hidup dan inspirasinya sendiri&#8230;. Maka adalah terelalu gegabah untuk menuduh Hamka plagiat seperti meneriaki tukang copet di senen (hal 147)</p>
<p>Menanggapi pendapat HB Jassin ini Abdullah SP dan kawan-kawannya menyebutkan bahwa itu semua adalah dalih yang dibuat-buat dan seluruh persyaratan definisi palgiarisme yang dikemukakan HB Jassin sendiri terungkap dalam karya Hamka. Lalu bagaimana pendapat Hamka sendiri? buku ini mengungkap bahwa Hamka bergeming dan memilih bungkam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Singkatnya buku ini mencoba membeberkan beberapa point penting dari artikel-artikel yang pernah dimuat di harian Bintang Timur terkait kasus plagiarisme Hamka selama kurang lebih. Hal menarik yang terungkap dalam buku ini adalah sebuah fakta bahwa sebenarnya Bintang Timur telah menutup kasus Hamka ini tiga bulan setelah serangan bertubi-tubi yang ditujukan pada Hamka tepatnya pada 19 November 1962.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dalam surat resmi redaksi Bintang Timur yang dimuat pada tgl 19 November 1962 itu terungkap bahwa redaksi menerima larangan dari Peperda (Penguasa Perang Daerah) agar persoalan Hamka tidak dimuat lagi di lembar kebudayaan Lentera/Bintang Timur. Namun kenyataannya kehebohan kasus Hamka ini tidak berhenti begitu saja melainkan terus membesar. Kasus plagiarisme Hamka ini baru benar-benar lenyap saat badai taufan G30 S ikut mengenggelamkan kehebohan dan skandal sastra di atas kapal Van der Wijk dan kapal Bintang Timur pada tahun 1965.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Satu hal yang membuat saya masih penasaran dengan buku ini adalah siapa sebenarnya Abdullah SP si pemicu isu plagiarisme Hamka, buku ini tak menjelaskan siapa sebenarnya Abdullah SP selain keterangan bahwa beliau adalah penulis kelahiran Cirebon (1924) dan mulai menulis sejak revolusi di majalah Republik – Cirebon.</p>
<p>Jika melihat metode perbandingan dan tulisan-tulisan Abdullah SP dalam buku ini sepertinya beliau bukan orang &#8216;sembarangan&#8217;. Ada yang menduga bahwa Abdullah SP adalah nama samaran Pramoedya AT. Sayang buku ini tak mengungkap siapa sebenarnya Abdullah SP, apakah memang penulis tak mengetahuinya atau memang sengaja untuk tidak diungkapkan? Tak ada keterangan sedikitpun akan hal ini dari penulisnya</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebagai sebuah buku yang mengkronik kasus skandal sastra plagiarisme Hamka buku ini sangat bermanfaat bagi generasi kini yang mungkin sudah tak pernah mendengar lagi kasus ini. Sebelum buku ini terbit, hanya ada satu buku terkait yang ditulis oleh Junus Amir Hamzah dan HB Jasin berjudul <em>Van der Wijk dalam Polemik </em>terbitan Mega Book, Jakarta 1963. Sebenarnya Pramoedya AT dan Lentera saat itu juga sedang mempersiapkan naskah berjudul <em>Hamka Plagiat</em> , sayangnya naskah tersebut tak sempat diterbitkan menyusul tragedi G 30 S.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dilihat dari karakteristik pembahasan buku ini bisa dikatakan buku ini menjiwai ‘roh’ dari apa yang pernah disusun oleh Pramoedya. Muhiddin M Dahlan dalam kata pengantarnya menulis demikian</p>
<p><em>Buku yang di tangan pembaca ini, boleh jadi menjadi pengantar untuk niat Pram dan kawan-kawan “Lentera” yang buru-buru sejarahnya disembelih oleh Gestok 1965 dan diantara mereka di-Buru-kan.</em> (hal 12)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Plagiat, Keributan, Omong Kosong, dan Kehormatan</p>
<p>Buku ini dengan gagahnya ditutup dengan bab Plagiat, Keributan, Omong Kosong, dan Kehormatan yang mengungkap kasus-kasus plagiarisme di dunia sastra terbaru. Dalam bab ini dibahas kasus-kasus plagiarisme terkini dengan bahasan yang detail seperti kasus cerpen Perempuan Tua dalam Rasmohon karya Dadang Ari Murtono, kasus puisi Kerendahan Hati Taufik Ismail yang diduga sebagai karya jiplakan dari puisi Be the Best of Whatever You Are karya Douglas Malloch, hingga kasus plagiarisme terkini yang menimpa Seno Gumiro Ajidarma dalam cerpen “Dodolit Dodolibret” sebagai pemenang Cerpen Terbaik Kompas 2011 yang mirip dengan cerpen Tiga Pertapa karya Leo Tolstoy</p>
<p>Dari bab terakhir buku ini akan terlihat bahwa kasus plagiarism dalam sejarah sastra Indonesia tak ada yang sebegitu heboh dan seserius kasus plagiarisme Hamka. Kini kasus-kasus plagiarisme hanyalah heboh sesaat untuk selanjutnya mereda dengan cepat. Tak ada kelanjutan dan luruh dengan sendirinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Akhir kata belajar dari apa yang terekam dalam buku ini seperti kasus Hamka kasus plagiarisme sastra Indonesia tak pernah tuntas, hanya menimbulkan kegeraman dan polemik sesaat sebelum terkubur dan terlupakan dalam sejarah sastra kita.</p>
<p>Dari kasus demi kasus yang terjadi nyaris tak menunjukkan perkembangan yang signifikan. Hukuman bagi orang yang disangkakan plagiator di bidang sastra nyaris tidak ada. Hingga kini tak ada kesepakatan yang jelas dari para sastrawan kita apa yang menjadi tolok ukur sebuah karya sastra masuk dalam kategori plagiat atau tidak. Orang yang pernah diisukan sebagai plagiator seperti Hamka, Chairil Anwar, atau sastrawan-sastrawan lainnya tetap bisa berkarya dan menjadi tokoh sastra yang disegani.</p>
<p><em>“Jangan-jangan soal plagiat, hanya penulis karya dan Tuhan yang tahu. Dan para pencurinya tetap pada kehormatannya. “</em> (hal 229)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditulis oleh @htanzil</p>
<p>Silakan kunjungi webnya di <a title="H Tanzil" href="http://bukuygkubaca.blogspot.com/" target="_blank">SINI</a>.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zeventina.com/2011/11/11/aku-mendakwa-hamka-plagiat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pelukan Siang dan Malammu</title>
		<link>http://www.zeventina.com/2011/11/09/pelukan-siang-dan-malammu/</link>
		<comments>http://www.zeventina.com/2011/11/09/pelukan-siang-dan-malammu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Nov 2011 14:13:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[zeventina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zeventina.com/?p=211</guid>
		<description><![CDATA[kepada pencipta degup yang tengah mencipta redup maafkan jika aku tergugup saat tiba-tiba kau kecup sebab hanya kau pencipta hangat merambah nadi merindu &#160; kepada pemberi jejak penoreh bait-bait sajak sekujurku terimakasih telah terpesona pada [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.zeventina.com/wp-content/uploads/2011/11/200555730-002.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-214" title="200555730-002" src="http://www.zeventina.com/wp-content/uploads/2011/11/200555730-002-199x300.jpg" alt="" width="199" height="300" /></a></p>
<p>kepada pencipta degup yang tengah mencipta redup</p>
<p>maafkan jika aku tergugup saat tiba-tiba kau kecup</p>
<p>sebab hanya kau pencipta hangat merambah nadi merindu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>kepada pemberi jejak penoreh bait-bait sajak sekujurku</p>
<p>terimakasih telah terpesona pada heningku</p>
<p>pasti aku akan kembali ke pelukan siang malammu..</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Zev</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zeventina.com/2011/11/09/pelukan-siang-dan-malammu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dahapati</title>
		<link>http://www.zeventina.com/2011/10/30/dahapati/</link>
		<comments>http://www.zeventina.com/2011/10/30/dahapati/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 04:14:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Sajak Cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zeventina.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Menatap dedaunan menerawang di ranting-ranting dahapati serpiannya berdesir bergerak, menyembur diri terbalut ketenangan saat moksa Budha berceceran mengering di tanganku di tanganmu negeri masih sunyi rembulan menyepi menuntun diri dalam temaram dari cahaya lilin [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.zeventina.com/wp-content/uploads/2011/10/Eyv0TX80lh.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-202" title="Eyv0TX80lh" src="http://www.zeventina.com/wp-content/uploads/2011/10/Eyv0TX80lh-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menatap dedaunan menerawang<br />
di ranting-ranting dahapati<br />
serpiannya berdesir<br />
bergerak, menyembur</p>
<p>diri terbalut ketenangan<br />
saat moksa Budha berceceran<br />
mengering di tanganku<br />
di tanganmu</p>
<p>negeri masih sunyi<br />
rembulan menyepi<br />
menuntun diri dalam temaram<br />
dari cahaya lilin yang kau tanam di tubuhku</p>
<p>angan tercipta dalam buaian<br />
perhelatan lembut dua pendapa<br />
pesona indah<br />
berselasar, di jiwa</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>desau anginpun tercipta &#8211; di ranting-ranting dahapati</em></p>
<p>Zev</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zeventina.com/2011/10/30/dahapati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>God Sees The Truth, But Waits… &#8211; Leo Tolstoy</title>
		<link>http://www.zeventina.com/2011/10/25/god-sees-the-truth-but-waits%e2%80%a6-leo-tolstoy/</link>
		<comments>http://www.zeventina.com/2011/10/25/god-sees-the-truth-but-waits%e2%80%a6-leo-tolstoy/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Oct 2011 15:41:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen Terjemahan]]></category>
		<category><![CDATA[Leo Tolstoy]]></category>
		<category><![CDATA[zeventina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zeventina.com/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[TUHAN MAHA TAHU, TAPI SABARLAH…. (God Sees The Truth, But Waits… - Oleh Leo Tolstoy) &#160; Di kota Vladimir hiduplah seorang saudagar muda yang bernama Ivan Dimitrich Aksionov. Ia memiliki sebuah rumah dan dua buah [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.zeventina.com/wp-content/uploads/2011/10/0070fw3q.jpeg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-193" title="0070fw3q" src="http://www.zeventina.com/wp-content/uploads/2011/10/0070fw3q-219x300.jpg" alt="" width="219" height="300" /></a></p>
<p><strong>TUHAN MAHA TAHU, TAPI SABARLAH….</strong><strong> </strong></p>
<p><strong>(God Sees The Truth, But Waits… </strong><strong>- </strong><strong>Oleh Leo Tolstoy</strong><strong>)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di kota Vladimir hiduplah seorang saudagar muda yang bernama Ivan Dimitrich Aksionov. Ia memiliki sebuah rumah dan dua buah toko.</p>
<p><span id="more-192"></span></p>
<p>Aksionov adalah seorang pria tampan berambut pirang keriting, penuh canda dan gemar menyanyi. Ketika masih sangat muda ia suka minum‑minum dan bikin ribut kalau mabuk. Tapi setelah menikah ia pun berhenti minum, kecuali sesekali saja.</p>
<p>Pada suatu musim panas Aksionov akan berangkat ke Pasar Malam Nizhny, dan ketika berpamitan dengan keluarganya, istri­nya berkata, “Ivan Dimitrich, jangan berangkat hari ini. Aku telah bermimpi buruk tentangmu.”</p>
<p>Aksionov tertawa dan menyahut, “Kau khawatir kalau sesampainya di sana nanti, aku akan berfoya‑foya.”</p>
<p>Istrinya menjawab, “Aku tak tahu apa yang kukhawatirkan, yang kutahu hanyalah bahwa aku telah bermimpi buruk. Dalam mimpi itu kulihat setelah kau pulang dari kota dan membuka topi, seluruh rambutmu telah ubanan.”</p>
<p>Aksionov tertawa. “Itu pertanda baik,” ujarnya. “Lihat kalau sampai aku tidak menjual habis semua barang‑barangku, dan membawakanmu oleh‑oleh dari sana.”</p>
<p>Maka iapun berpamitan kepada keluarganya dan berangkat dengan kereta kudanya.</p>
<p>Ketika baru setengah perjalanan ia berjumpa dengan seorang saudagar kenalannya, dan merekapun menginap di losmen yang sama malam itu. Mereka menikmati teh bersama dan setelah itu berangkat ke tempat tidur di ruang yang bersebelahan.</p>
<p>Bukanlah kebiasaan Aksionov untuk tidur sampai larut, dan karena ingin berangkat ketika hari masih dingin, ia mem­bangunkan kusirnya sebelum fajar dan menyuruhnya menyiapkan kuda. Kemudian ia pergi ke tempat pemilik losmen yang tinggal di sebuah pondok di belakang, membayar sewanya dan melanjutkan perjalanan.</p>
<p>Setelah berjalan kira‑kira sejauh dua puluh lima mil, ia menyuruh berhenti untuk memberi makan kuda. Aksionov beristi­rahat sejenak di gang losmen, lalu ia beranjak ke serambi depan dan sambil menyuruh untuk memanaskan <em>samovar</em>, iapun mengeluarkan gitarnya dan mulai memainkannya.</p>
<p>Tiba‑tiba sebuah <em>troika</em> mendekat dengan bunyi lonceng yang bergemerincing, seorang perwira turun diikuti oleh dua orang prajurit. Ia mendatangi Aksionov dan mulai menanyainya, tentang siapa dia dan kapan dia datang. Aksionov menjawab semua pertanyaannya, dan berkata,”Bersediakah Anda minum teh bersama saya?” Tapi sang perwira tetap meneruskan menanyainya.</p>
<p>“Di mana Anda menginap tadi malam? Apakah Anda sendirian ataukah bersama seorang saudagar yang lain? Apakah Anda ber­jumpa dengan seorang saudagar yang lain pagi ini? Kenapa Anda tinggalkan losmen itu sebelum fajar?”</p>
<p>Aksionov heran kenapa ia ditanyai dengan semua perta­nyaan itu, namun iapun menceritakan juga semua yang telah dialaminya, lalu menambahkan, “Kenapa Anda menanyai saya berulang‑ulang begitu seakan‑akan saya ini seorang pencuri atau perampok saja? Saya sedang dalam perjalanan bisnis, dan tidak perlu menginterogasi seperti itu.”</p>
<p>Kemudian sang perwira sambil memanggil para prajurit berkata, “Saya adalah perwira polisi di distrik ini, dan saya menanyai Anda karena saudagar yang menginap bersama Anda semalam telah ditemukan dalam keadaan tewas dengan leher tergorok. Kami harus memeriksa barang‑barang Anda.”</p>
<p>Merekapun memasuki rumah. Para prajurit dan perwira polisi tadi membuka kopor‑kopor Aksionov dan menggeledahnya. Tiba‑tiba sang perwira menarik sebilah pisau dari sebuah tas sambil berseru, “Pisau siapa ini?” Aksionov yang melihat sebilah pisau bernoda darah ditarik dari tasnya menjadi takut.</p>
<p>“Bagaimana ada darah di pisau ini?”</p>
<p>Aksionov berusaha menjawab namun dengan susah payah hanya mampu berucap dengan terbata‑bata:</p>
<p>“A‑ku ti‑dak ta‑hu. Bu‑kan mi‑lik‑ku.”</p>
<p>Kemudian sang perwira polisi berkata, “Pagi ini saudagar itu ditemukan di atas ranjang dengan leher tergorok. Andalah satu‑satunya orang yang dapat melakukannya. Rumah itu dikunci dari dalam dan tak ada orang lain di sana. Pisau bernoda darah ini berada di dalam tas Anda, lagi pula sudah jelas kelihatan dari wajah dan sikap Anda! Katakan bagaimana Anda membunuhnya, dan berapa banyak uang yang Anda curi?”</p>
<p>Aksionov bersumpah bahwa dirinya tidak melakukan hal itu. Dia tidak berjumpa lagi dengan saudagar itu sejak mereka usai minum teh bersama, dia tidak punya uang selain delapan ribu rubel miliknya sendiri, dan bahwa pisau itu bukan milik­nya. Tapi suaranya pecah, wajahnya pucat, dan dia pun gemetar ketakutan seakan‑akan memang bersalah.</p>
<p>Sang perwira polisi memerintahkan anak buahnya untuk mengikat Aksionov dan memasukkannya ke dalam kereta. Ketika mereka mengikat kedua kakinya jadi satu dan menghempaskannya ke dalam kereta, Aksionov berdoa dengan membuat isyarat tanda salib dengan tangannya dan menangis. Uang dan barang‑barangnya disita, ia dikirim ke kota terdekat dan ditahan di sana. Penyelidikan tentang diri­nya dilakukan di Vladimir. Para saudagar dan penduduk lain di kota itu mengatakan bahwa dulunya ia memang suka minum‑minum dan membuang‑buang waktu percuma, namun dia adalah orang baik. Kemudian sidang pengadilanpun digelar: ia dituduh telah membu­nuh seorang saudagar dari Ryazan dan merampoknya sebanyak dua puluh ribu rubel.</p>
<p>Istrinya putus asa dan tidak tahu apa yang harus dipercaya. Anak‑anaknya masih kecil, yang seorang malah masih menyusu. Sambil membawa mereka semua, ia berangkat ke kota di mana suaminya ditahan. Mulanya ia tidak diijinkan menjumpai suami­nya, namun setelah memohon dengan amat sangat, iapun mendapat­kan ijin dari para pejabat dan diantar menemui suaminya. Ketika melihat suaminya memakai seragam tahanan dan dirantai, dikurung bersama para pencuri dan penjahat—wanitu itupun jatuh pingsan dan tidak sadar‑sadar sampai beberapa lama. Setelah siuman ia menarik anak‑anaknya ke dirinya dan duduk di samping suaminya. Diceritakannya tentang keadaan di rumah, dan menanyakan apa yang menimpa suaminya. Pria itupun menceritakan semuanya. Lalu sang istri bertanya, “Apa yang dapat kita per­buat sekarang?”</p>
<p>“Kita harus mengajukan permohonan kepada Tsar agar tidak membiarkan orang yang tidak bersalah binasa.”</p>
<p>Istrinya mengatakan bahwa ia telah mengajukan permohonan itu kepada Tsar, tapi tidak dikabulkan. Aksionov tidak menja­wab namun hanya tampak putus asa.</p>
<p>Kemudian istrinya berkata, “Ternyata bukan tak ada artinya aku dulu bermimpi rambutmu ubanan. Masih ingatkah? Seharusnya kau tidak berangkat pada hari itu”. Dan sambil membelai rambut suaminya iapun berkata, “Vanya, sayang, kata­kanlah yang sejujurnya kepada istrimu ini. Apakah memang bukan kau yang melakukannya?”</p>
<p>“Jadi kaupun mencurigaiku!” sahut Aksionov, dan sambil membenamkan wajahnya ke dalam telapak tangan, iapun menangis. Lalu datanglah seorang prajurit yang mengatakan bahwa sang istri dan anak‑anaknya harus pergi. Aksionovpun mengucapkan selamat tinggal kepada keluarganya untuk yang terakhir kali­nya.</p>
<p>Ketika mereka telah pergi, Aksionov mengingat‑ingat percakapan tadi, dan ketika terkenang bahwa istrinyapun ikut mencurigainya, ia berkata pada dirinya, “Tampaknya hanya Tuhan saja yang tahu kebenaran ini, hanya kepada‑Nya kita berdoa dan minta ampun.”</p>
<p>Dan Aksionovpun tidak lagi mengajukan petisi dan berha­rap banyak, ia hanya berdoa kepada Tuhan.</p>
<p>Aksionov dijatuhi hukuman cambuk dan dikirim ke pertam­bangan. Iapun dicambuk dengan cemeti, dan setelah luka‑luka cambukan itu sembuh, ia dibawa ke Siberia bersama para pekerja paksa lainnya.</p>
<p>Selama dua puluh enam tahun Aksionov hidup sebagai seorang pekerja paksa di Siberia. Rambutnya berubah menjadi seputih salju, janggutnyapun tumbuh panjang, tipis, berwarna abu‑abu. Semua keceriaannya punah, ia selalu menunduk, berja­lan perlahan, sedikit bicara, dan tak pernah tertawa, namun sering berdoa.</p>
<p>Di dalam penjara Aksionov belajar membuat sepatu boot, dan memperoleh sedikit uang yang dibelikannya buku <em>Kehidupan Orang‑Orang Saleh</em>. Ia membaca buku itu ketika terdapat cukup cahaya di dalam penjara. Dan setiap hari Ahad di dalam gereja penjara ia membaca pelajaran‑pelajaran serta ikut menyanyi dalam paduan suara karena suaranya masih bagus.</p>
<p>Para pejabat penjara menyukai Aksionov karena kepatuhan­nya, dan teman‑teman sesama napi pun menghormatinya. Mereka menjulukinya dengan sebutan “Kakek” dan “Orang Saleh”. Kalau mereka ingin mengajukan permohonan kepada para pejabat penjara tentang hal apa saja, mereka selalu mengangkat Aksionov seba­gai juru bicaranya. Dan manakala terjadi keributan di antara sesama napi, mereka datang kepadanya untuk memutuskan perkara yang benar.</p>
<p>Tak ada berita yang sampai kepada Aksionov dari rumah­nya, bahkan iapun tak tahu apakah istri dan anak‑anaknya masih hidup.</p>
<p>Suatu hari sekelompok tahanan kerja paksa baru didatang­kan ke penjara. Sorenya, para napi lama mengerumuni rekan‑rekannya yang baru itu dan menanyai mereka: dari kota atau desa mana saja mereka berasal dan dihukum karena perbuatan apa. Di tengah‑tengah istirahat, Aksionov duduk di dekat para pendatang baru itu dan ikut mendengarkan dengan roman muka putus asa atas apa yang diucapkan.</p>
<p>Salah seorang di antara pekerja paksa baru itu adalah seorang pria berumur enam puluh tahunan berperawakan tinggi kekar dan berjenggot lebat terpangkas rapi, ia sedang berceri­ta kepada yang lainnya kenapa dirinya ditahan.</p>
<p>“Baiklah, teman‑teman,” ujarnya, “aku hanya mengambil seekor kuda yang sedang diikat di pengeretan. Lalu aku ditahan dan dituduh atas pencurian. Telah kukatakan bahwa aku mengam­bilnya supaya bisa cepat pulang ke rumah, kemudian melepasnya pergi. Lagi pula, pengendaranya adalah temanku sendiri. Dengan demikian aku bilang, ‘Itu tidak apa‑apa’. Tapi mereka mengata­kan, ‘Tidak. Kau telah mencurinya’. Tapi bagaimana dan kapan aku mencurinya mereka tak dapat menunjukkannya. Dulu, pernah sekali aku memang sungguh‑sungguh berbuat salah, dan seharus­nya berdasar hukum sudah berada di sini sejak lama, tapi ketika itu aku tidak tertangkap. Kini aku dikirim kemari tanpa alasan sama sekali…. Eh, tapi itu cuma bohong yang kucerita­kan kepada kalian. Aku pernah ke Siberia sebelumnya namun tidak tinggal lama.”</p>
<p>“Dari mana asalmu?” tanya seseorang.</p>
<p>“Dari Vladimir. Keluargaku berasal dari kota itu. Namaku Makar, dan mereka juga memanggilku Semyonich.”</p>
<p>Aksionov mengangkat kepalanya dan berkata, “Katakan padaku, Semyonich, apakah kau tahu sesuatu tentang keluarga saudagar Aksionov dari Vladimir? Apakah mereka masih hidup?”</p>
<p>“Tahu tentang mereka? Tentu saja. Keluarga Aksionov kaya, meskipun ayah mereka berada di Siberia, tampaknya seo­rang pendosa juga seperti kita! Lalu bagaimana dengan Anda sendiri, Kek? Bagaimana Anda bisa sampai di tempat ini?”</p>
<p>Aksionov tidak ingin menceritakan kemalangannya. Ia hanya mendesah dan berkata, “Karena dosa‑dosaku maka aku berada di dalam penjara selama dua puluh enam tahun ini.”</p>
<p>“Dosa‑dosa apa?” tanya Makar Semyonich.</p>
<p>Namun Aksionov hanya berkata, “Yah… aku memang layak mendapatkannya!”</p>
<p>Ia tak ingin berkata lebih banyak, namun teman‑temannya memberitahukan kepada para pendatang baru itu bagaimana Aksio­nov bisa sampai ke Siberia. Bagaimana seseorang telah membunuh seorang saudagar, lalu menyelipkan pisaunya ke dalam barang‑barang Aksionov, dan Aksionovpun secara tidak adil telah dijatuhi hukuman.</p>
<p>Ketika Makar Semyonich mendengar semua ini, ia meman­dangi Aksionov, dan berseru sambil menepuk‑nepuk lututnya sendiri, “Wow, sungguh luar biasa! Sangat luar biasa! Tapi betapa cepatnya kau menjadi tua, Kek!”</p>
<p>Yang lainnyapun menanyainya kenapa ia begitu terkejut, dan di manakah ia pernah melihat Aksionov sebelumnya, namun Makar Semyonich tidak memberikan jawaban. Ia hanya berkata, “Ini luar biasa bahwa kita akan bertemu di sini, hai budak‑budak!”</p>
<p>Kata‑kata ini membuat Aksionov bertanya‑tanya apakah pria ini tahu siapa sesungguhnya yang dulu membunuh sang saudagar, maka iapun berkata, “Semyonich, barangkali kau pernah mendengar kejadian itu, atau mungkin kau pernah meli­hatku sebelum ini?”</p>
<p>“Apakah aku pernah mendengarnya? Dunia ini penuh dengan desas‑desus. Tapi peristiwa itu sudah lama sekali dulu, dan aku telah lupa apa yang kudengar.”</p>
<p>“Barangkali kau pernah mendengar siapa yang membunuh saudagar itu?” tanya Aksionov.</p>
<p>Makar Semyonich tertawa dan menjawab, “Dia itu pastilah orang yang di dalam tasnya ditemukan pisau tersebut! Kalaulah  ada orang lain yang meletakkannya di sana, maka ada ungkapan: ‘Dia bukan pencuri sampai tertangkap’, bagaimana ada orang yang bisa meletakkan sebilah pisau di dalam tasmu yang berada di bawah kepalamu? Pastilah akan membuatmu terbangun.”</p>
<p>Ketika Aksionov mendengar kata‑kata ini, ia merasa yakin bahwa orang inilah yang telah membunuh saudagar itu. Iapun bangkit dan pergi. Sepanjang malam itu Aksionov terbaring dalam keadaan jaga. Dia merasa sangat sedih, dan berbagai bayangan muncul di benaknya. Ada bayangan istrinya saat ia meninggalkannya untuk pergi ke pasar malam. Dia melihat wanita itu seakan‑akan hadir: wajah dan matanya muncul di hadapannya, ia mendengar bicara dan tawanya. Lalu ia melihat anak‑anaknya, masih kecil‑kecil ketika itu, yang seorang mengenakan mantel mungil sedangkan yang satunya lagi masih menyusu di dada ibunya.</p>
<p>Lalu ia pun mengenang dirinya sendiri kala itu: muda dan ceria. Ia ingat ketika duduk bermain gitar di beranda losmen itu, di mana dirinya ditangkap. Betapa dulu ia tak pernah merasa susah.</p>
<p>Di benaknya ia melihat tempat di mana dirinya dicambuk, sang algojo, orang‑orang yang berdiri di sekelilingnya, ran­tai‑rantai itu, para pekerja paksa, semua dua puluh enam tahun kehidupannya di penjara, dan usia tuanya yang prematur. Menge­nang semua itu membuatnya sangat sedih hingga ingin rasanya bunuh diri.</p>
<p>“Dan semua ini karena perbuatan bajingan itu!” batinnya. Dan kemarahannya sangat besar kepada Makar Semyonich sehingga ia ingin sekali melakukan balas dendam, walaupun dirinya sendiri harus hancur karenanya. Ia terus mengulang‑ulang doa sepanjang malam itu, namum tetap tidak bisa merasa tentram. Selama siang harinya ia tidak mau berada di dekat Makar Semyo­nich, ataupun melihat ke arahnya.</p>
<p>Dua pekan berlalu seperti itu. Aksionov tak dapat tidur tiap malamnya, dan begitu menderita sehingga tak tahu apa yang harus dikerjakan.</p>
<p>Suatu malam ketika sedang berjalan‑jalan di sekitar penjara ia melihat seonggok tanah terlempar keluar dari bawah salah satu dipan bersusun tempat tidur para napi. Iapun ber­henti untuk mengamati apakah itu gerangan. Tiba‑tiba Makar Semyonich merangkak keluar dari bawah dipan tadi dan memandang ke atas kepada Aksionov dengan ketakutan. Aksionov berusaha berlalu tanpa memandang ke arahnya, tapi Makar Semyonich mencengkeram lengannya dan mengatakan kepadanya bahwa ia telah menggali sebuah lubang di bawah dinding, membuang tanahnya dengan cara memasukkannya ke dalam sepatu boot‑nya yang ting­gi, lalu membuangnya setiap hari ke jalan ketika para napi sedang digiring untuk bekerja.</p>
<p>“Pokoknya kau diam saja, Pak Tua. Dan kaupun akan ikut keluar juga. Kalau kau sampai berkicau maka mereka akan men­cambukku sampai mati, tapi sebelum itu aku akan membunuhmu lebih dulu.”</p>
<p>Aksionov bergetar marah ketika memandang musuhnya. Ia merenggutkan tangannya seraya berkata, “Aku tak ingin melolos­kan diri. Dan kaupun tak perlu membunuhku, kau telah membunuh­ku sejak lama! Tentang melaporkan perbuatanmu ini, aku boleh melakukannya atau tidak, Tuhanlah yang memberi petunjuk.”</p>
<p>Pada hari berikutnya ketika para napi digiring ke peker­jaan mereka, patroli tentara melihat salah seorang napi sedang membuang tanah dari sepatu boot‑nya. Penjara tersebut digele­dah dan terowongan itupun ditemukan. Sang gubernur datang dan menanyai semua napi untuk mencari tahu siapa yang telah meng­gali lubang itu. Mereka semua menyangkal mengetahui hal terse­but. Orang‑orang yang tahupun tidak mau mengkhianati Makar Semyonich, karena tahu bahwa ia akan dicambuk sampai hampir mati.</p>
<p>Akhirnya sang gubernur berpaling kepada Aksionov yang diketahuinya sebagai seorang yang jujur, dan berkata, “Kau adalah seorang tua yang bisa dipercaya, katakan padaku, di depan Tuhan, siapa yang telah menggali lubang itu?”</p>
<p>Makar Semyonich berdiri dengan lagak seakan‑akan tidak begitu peduli, dia memandang kepada sang gubernur dan hanya melihat sekilas ke arah Aksionov. Bibir dan tangan Aksionov bergetar, dan untuk beberapa lama ia tak dapat mengucapkan sepatah katapun. Ia membatin, “Mengapa aku harus melindungi orang yang telah menghancurkan hidupku? Biar dia membayar apa yang telah kuderita ini. Tapi bila aku bicara, mereka mungkin akan mencambuknya sampai mati, dan barangkali kecurigaanku ini bisa saja salah. Lagipula, apa untungnya bagiku?”</p>
<p>“Baiklah, Pak Tua,” ulang sang gubernur, “katakan padaku yang sejujurnya: siapa yang telah menggali di bawah tembok itu?”</p>
<p>Aksionov melihat sekilas ke arah Makar Semyonich, dan berkata, “Aku tak dapat mengatakannya, Tuan. Bukanlah kehendak Tuhan agar aku mengatakannya! Lakukan saja apa yang Anda inginkan atas diriku ini, aku berada di tangan Anda.”</p>
<p>Bagaimanapun sang gubernur telah berusaha, Aksionov tidak mau berkata lebih banyak lagi, dan perkara itupun akhir­nya dianggap selesai.</p>
<p>Malamnya ketika Aksionov berbaring di dipannya dan mulai terlelap, seseorang mendatanginya secara diam‑diam dan duduk di atas dipannya. Iapun memandang dengan tajam menembus kege­lapan dan mengenali Makar Semyonich.</p>
<p>“Apa lagi yang kamu inginkan dariku?” tanya Aksionov. “Kenapa kamu datang ke sini?”</p>
<p>Makar Semyonich diam.</p>
<p>Maka Aksionovpun duduk dan berkata, “Apa maumu? Pergi­lah, atau akan aku panggilkan penjaga!” Makar Semyonich membungkuk ke dekat Aksionov lalu berbi­sik, “Ivan Dimitrich, maafkan aku….”</p>
<p>“Untuk apa?” tanya Aksionov.</p>
<p>“Akulah sebenarnya yang dulu membunuh saudagar itu dan menyembunyikan pisaunya di dalam barang‑barangmu. Aku sebetul­nya bermaksud membunuhmu juga, namun kudengar ada ribut‑ribut di luar, maka kusembunyikan pisau itu ke dalam tasmu dan melarikan diri lewat jendela.”</p>
<p>Aksionov terdiam, dan tak tahu apa yang harus dikatakan­nya. Makar Semyonich beringsut dari dipan itu dan berlutut di atas tanah.</p>
<p>“Ivan Dimitrich,” katanya memohon, “maafkanlah aku. Demi kasih Tuhan, maafkanlah aku. Aku akan mengaku bahwa akulah yang telah membunuh saudagar itu, dan kaupun akan dibebaskan dan bisa pulang ke rumahmu.”</p>
<p>“Mudah saja bagimu bicara begitu,” ujar Aksionov, “tapi aku telah menderita karena ulahmu selama dua puluh enam tahun ini. Ke mana lagi aku hendak pergi sekarang? Istriku sudah meninggal, dan anak‑anakku pun sudah tak ingat lagi kepadaku. Aku tak bisa pergi ke mana‑mana lagi….”</p>
<p>Makar Semyonich tidak bangkit, tapi justru membentur‑benturkan kepalanya ke lantai. “Ivan Dimitrich, maafkan aku!” tangisnya. “Ketika mereka mencambukku dengan cemeti dulu, tidaklah seberapa berat menanggungnya dibandingkan melihatmu seperti saat ini. Bahkan kaupun telah mengasihaniku, dengan tidak mengatakannya kepada mereka siang tadi. Demi Kristus, ampuni aku, aku memang brengsek!” Dan iapun terisak‑isak. Ketika Aksionov mendengarnya menangis terisak‑isak begitu, iapun ikut menangis. “Tuhan akan mengampunimu,” kata­nya. “Mungkin aku seratus kali lebih buruk daripadamu.”</p>
<p>Dan dengan kata‑kata ini hatinyapun terasa ringan dan terang, kerinduan kepada rumah pun hilang. Ia tak ada keingi­nan lagi meninggalkan penjara itu, namun hanya mengharap agar saat‑saat terakhirnya segera tiba.</p>
<p>Terlepas dari apa yang telah dikatakan Aksionov, Makar Semyonich tetap mengakui kesalahannya. Tapi ketika perintah pembebasan atas dirinya dikeluarkan, Aksionov baru saja wafat.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p>.</p>
<p><strong>LEO TOLSTOY (1828‑1910)</strong> ketika mudanya pernah bergabung di dalam dinas militer Tsar, namun setelah menikah ia menetap dan mengurusi para petani penggarap tanah milik keluarga Yasnaya Polyana. Di sanalah lahir anak‑anaknya, juga novel‑novel terbaiknya<em>: Perang dan Damai</em> dan <em>Anna Karenina.</em> Ia anti keker­asan, mencintai kesederhanaan dan kasih. Karena berani menyam­paikan pendapat dan bertindak sesuai dengan keyakinannya, iapun dikucilkan oleh Gereja Orthodox Rusia. Namun kini ia dianggap sebagai salah seorang tokoh puncak sastra dan seorang manusia yang saleh. Naskah cerita ini dalam Bahasa Inggrisnya berjudul <em>God Sees the Truth, But Waits….</em></p>
<p>.</p>
<p><strong>SUMBER</strong><strong>:</strong> http://www.worditude.com/ebooks/htmlbooks/tolstoy.html</p>
<p>.</p>
<p>Alih bahasa oleh Syafruddin HASANI.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zeventina.com/2011/10/25/god-sees-the-truth-but-waits%e2%80%a6-leo-tolstoy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ost Nyai Duesseldorf</title>
		<link>http://www.zeventina.com/2011/10/18/ost-nyai-duesseldorf/</link>
		<comments>http://www.zeventina.com/2011/10/18/ost-nyai-duesseldorf/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Oct 2011 02:31:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Novel]]></category>
		<category><![CDATA[album]]></category>
		<category><![CDATA[bintang]]></category>
		<category><![CDATA[hanya untukmu]]></category>
		<category><![CDATA[johana may]]></category>
		<category><![CDATA[nyai duesseldorf]]></category>
		<category><![CDATA[zeventina]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zeventina.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[Novel terbaru Zeventina yang akan diluncurkan sekitar bulan November, berjudul &#8220;Nyai Duesseldorf&#8221; akan terbit bersamaan dengan CD berisi 10 lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi bersuara emas, Yohanna Nainggolan. Ost Nyai Duesseldorf sendiri berjudul &#8220;Hanya Untukmu&#8221; [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.zeventina.com/wp-content/uploads/2011/10/bintang.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-159" title="bintang" src="http://www.zeventina.com/wp-content/uploads/2011/10/bintang.jpg" alt="" width="400" height="384" /></a>Novel terbaru Zeventina yang akan diluncurkan sekitar bulan November, berjudul &#8220;Nyai Duesseldorf&#8221; akan terbit bersamaan dengan CD berisi 10 lagu yang dinyanyikan oleh penyanyi bersuara emas, Yohanna Nainggolan. Ost Nyai Duesseldorf sendiri berjudul &#8220;Hanya Untukmu&#8221; berisi petikan dari novel yang berupa musikalisasi puisi bergenre klasik.</p>
<p>Dalam lagu &#8220;Hanya Untukmu&#8221; ; tergambar petikan perjalanan kehidupan Nyai Duesseldorf ; tokoh inti dari cerita novel tersebut. Karena Nyai berasal dari desa Ciwidey, maka dalam lagunya dimasukan unsur &#8220;Budaya Sunda&#8221;, lewat tembang Sunda yang etniknya demikian terasa dan dibawakan demikian ritmis oleh Yohanna Nainggolan.</p>
<p><span id="more-158"></span></p>
<p>Kami akan mengadakan lomba dengan ketentuan sbb:</p>
<p><strong>KETENTUAN LOMBA I<br />
</strong></p>
<blockquote>
<ol>
<li>Download lagu &#8220;Hanya Untukmu&#8221;, lalu simak lagunya. Link download lihat di bagian bawah postingan.</li>
<li>Hitung ada berapa kata &#8220;Mu&#8221; dalam keseluruhan lagu &#8220;Hanya Untukmu&#8221;.</li>
<li>Jawaban dimention ke twitter @zeventina dan di cc ke @johanamay.</li>
<li>ATAU jawaban bisa juga melalui Facebook Zeventina, atau Facebook Yohanna Nainggolan.</li>
<li>Opsi lain, jawaban bisa juga di tulis di KOTAK KOMENTAR di bawah ini.</li>
</ol>
</blockquote>
<p><strong>KETENTUAN LOMBA II</strong></p>
<blockquote>
<ol>
<li>Untuk yang kesulitan download, kami memberi kesempatan juga untuk meramaikan lomba ini dengan meng RT tulisan kami tentang lomba ini di akun twitter atau Facebooknya masing2. RT terbanyak akan mendapat hadiah.</li>
<li>RT-an akan kami hitung berdasar mention yang masuk pada akun twitter kami.</li>
<li>Untuk yang share di facebook, akan kami hitung berdasar link sharenya yang di mention ke kami.</li>
</ol>
</blockquote>
<p><strong>KETENTUAN HADIAH</strong></p>
<p>Jawaban yang benar akan diundi, dan pemenangnya akan diumumkan besok jam 10 malam di timeline @zeventina dan @johanamay, serta di Facebook Zeventina dan Facebook Yohanna Nainggolan.</p>
<p>Hadiah pertama untuk lomba I, berupa Novel Nyai Duesseldorf, CD Lagu &#8220;Bintang&#8221; dan pulsa senilai 50 ribu dan hadiah untuk lomba II adalah pulsa senilai 25 ribu rupiah untuk 2 orang pemenang.</p>
<p>Terimakasih.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Untuk download, silakan cari lagu yang berjudul &#8220;Hanya Untukmu&#8221; lalu download:</p>
<blockquote><p><a title="Yohanna Nainggolan" href="http://yohannanainggolan.com/download/songs/" target="_blank"><strong>http://yohannanainggolan.com/download/songs/</strong></a></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zeventina.com/2011/10/18/ost-nyai-duesseldorf/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerpen Patrick Suskind</title>
		<link>http://www.zeventina.com/2011/10/16/cerpen-patrick-suskind/</link>
		<comments>http://www.zeventina.com/2011/10/16/cerpen-patrick-suskind/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Oct 2011 16:14:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen Terjemahan]]></category>
		<category><![CDATA[Patrick Suskind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zeventina.com/?p=149</guid>
		<description><![CDATA[&#160; RACUN KRITIKUS Pada pameran perdananya, seorang gadis dari Stuttgart yang menggambar sketsa dengan indah mendapat komentar dari seorang kritikus yang sesungguhnya tak bermaksud buruk, bahkan berniat menyemangatinya. Kritikus itu berkata, &#8220;Yang Anda lakukan menarik [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://www.zeventina.com/wp-content/uploads/2011/10/14661139-650617752.gif"><img class="aligncenter size-full wp-image-151" title="14661139-65061775" src="http://www.zeventina.com/wp-content/uploads/2011/10/14661139-650617752.gif" alt="" width="600" height="445" /></a></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>RACUN KRITIKUS</strong></p>
<p>Pada pameran perdananya, seorang gadis dari Stuttgart yang menggambar sketsa dengan indah mendapat komentar dari seorang kritikus yang sesungguhnya tak bermaksud buruk, bahkan berniat menyemangatinya. Kritikus itu berkata, &#8220;Yang Anda lakukan menarik dan Anda memang berbakat, tapi karya Anda belum menunjukkan kedalaman.&#8221;</p>
<p><span id="more-149"></span></p>
<p>Perempuan muda itu tak paham apa yang dimaksud oleh sang kritikus dan segera melupakan perkataannya itu. Namun, dua hari kemudian tulisan tentang pameran itu muncul di koran, ditulis oleh kritikus tersebut. Di dalamnya dia menyatakan, &#8220;Seniman muda itu berbakat dan pada sekali pandang karyanya tampak menyenangkan. Namun, sayangnya dia tak memiliki kedalaman.&#8221;</p>
<p>Si perempuan muda kini mulai memikirkan soal itu. Dia menatap sketsa-sketsanya yang baru dipamerkan dan memeriksa karya-karya lamanya. Dia melihat seluruh karyanya, termasuk yang sedang dia kerjakan. Lalu, dia mengencangkan tutup botol tintanya, mencuci penanya, dan pergi berjalan-jalan.</p>
<p>Pada malam itu dia diundang menghadiri sebuah acara. Orang-orang di acara itu seakan-akan telah membaca tulisan di koran tentang karyanya dan berulang-ulang mengatakan bahwa sketsanya mampu membangkitkan rasa senang dalam sekali pandang, juga bahwa dia memang berbakat. Namun, dari gumaman di belakang dan dari mereka yang memunggunginya, perempuan muda itu dapat mendengar bisik-bisik, &#8220;Tak ada kedalaman. Itulah. Dia tidak jelek, tapi sayangnya dia tak memiliki kedalaman.&#8221;</p>
<p>Sepanjang minggu itu sang seniman muda tak menggambar apa pun. Dia duduk diam di flatnya, merenung, dengan hanya satu pertanyaan di benaknya yang merengkuhnya seperti gurita dan melahap segala sisa isi kepalanya, &#8220;Mengapa aku tak memiliki kedalaman?&#8221;</p>
<p>Pada minggu kedua dia mencoba menggambar kembali, tapi hanya mampu menghasilkan coretan-coretan kacau. Terkadang dia bahkan tak mampu membuat satu titik pun. Akhirnya, dia begitu gemetar sehingga dia bahkan tak mampu mencelupkan ujung penanya ke dalam botol tinta. Lalu, dia terisak dan menangis, &#8220;Ya, memang benar, aku tak memiliki kedalaman!&#8221;</p>
<p>Pada minggu ketiga dia mulai membuka-buka buku-buku seni rupa untuk mempelajari karya-karya para seniman lain. Dia juga mulai menjelajahi galeri-galeri dan museum-museum seni. Dia membacai buku-buku tentang teori seni rupa. Dia pergi ke toko buku dan meminta pramuniaga membawakannya buku paling dalam tentang seni rupa yang ada di toko itu. Dia diberi sebuah buku karya Tuan Wittgenstein yang terkenal. Namun, seniman kita tak mampu memahaminya.</p>
<p>Di sebuah pameran di Museum Kota (&#8220;500 Tahun Sketsa Eropa&#8221;), dia menggabungkan diri dengan serombongan anak sekolah yang tengah dipandu berkeliling museum oleh guru seni rupa mereka. Tiba-tiba, di depan satu etsa karya Leonardo da Vinci, dia maju selangkah dan bertanya, &#8220;Maaf, apakah menurut Anda karya ini memiliki kedalaman?&#8221; Guru seni rupa itu tersenyum kepadanya dan menjawab, &#8220;Nak, jika kau ingin mengujiku, kau harus melakukannya lebih baik daripada itu!&#8221;&#8211;dan seisi rombongan pun meledak tertawa. Perempuan muda itu pulang dengan berurai air mata.</p>
<p>Seniman muda itu jadi semakin muram. Dia makin jarang meninggalkan studionya. Namun, dia juga tak mampu berkarya. Dia minum obat pencegah tidur, tapi dia tak tahu mengapa dia harus tetap terjaga. Ketika dia merasa lelah, dia tertidur di kursinya, seakan ia takut tidur terlalu pulas jika pindah ke ranjang. Dia juga mulai minum minuman keras dan terus merokok sepanjang malam. Dia tak lagi menggambar.</p>
<p>Ketika seorang pedagang barang seni dari Berlin meneleponnya untuk meminta beberapa sketsanya, dia berteriak ke gagang telepon, &#8220;Jangan ganggu aku! Atau tak punya kedalaman!&#8221;</p>
<p>Sesekali dia bermain lilin mainan, tapi tak pernah membuat sesuatu yang khusus dengannya. Dia hanya mengubur ujung-ujung jemarinya di dalamnya atau membuat pangsit-pangsit mungil dengan benda mainan itu. Dia mengabaikan diri sendiri. Dia tak lagi menjaga penampilannya dan membiarkan flat yang ditinggalinya berantakan.</p>
<p>Kawan-kawannya cemas. Mereka bilang, &#8220;Kita harus menolongnya. Dia sedang menderita depresi. Mungkin dia tengah mengalami krisis kepribadian atau sedang menghadapi masalah artistik. Atau mungkin dia sedang tak punya uang. Jika itu krisis kepribadian, tak ada yang bisa kita lakukan. Jika itu masalah seni, dia harus bisa mengatasinya sendiri. Jika masalahnya uang, kita bisa mengumpulkan uang untuknya, tapi jangan sampai dia merasa malu.&#8221;</p>
<p>Jadi, mereka memutuskan untuk mengundang perempuan seniman itu untuk makan malam dan menghadiri pesta. Namun, dia selalu menolak, beralasan sedang sibuk berkarya. Padahal, dia tak pernah berkarya lagi. Alih-alih, dia duduk mematung di kamarnya, menatap lurus ke depan seraya meremas-remas lilin mainan.</p>
<p>Suatu kali, dia bersedia menerima undangan kawan-kawannya. Setelah acara, seorang lelaki muda yang tertarik kepadanya ingin mengajaknya pulang dan tidur bersamanya. Perempuan itu bilang kepada lelaki yang menaksirnya bahwa ajakannya itu sangat menarik karena dia juga sebenarnya tertarik kepada lelaki itu. Namun, si perempuan meminta lelaki itu menyiapkan diri secara total terhadap satu kenyataan bahwa dia tidak dalam. Begitu mendengar hal ini, si lelaki segera meninggalkannya.</p>
<p>Perempuan muda yang dulu menggambar sketsa dengan begitu indah itu kini sungguh tampak kacau balau. Dia tak lagi pergi keluar rumah dan berhenti berhubungan seks. Dia jadi gemuk karena tak pernah berolahraga. Sementara, alkohol dan obat-obatan membuatnya tampak menua sebelum waktunya. Flat tempat tinggalnya makin berantakan dan tubuhnya mulai menebarkan bau busuk.</p>
<p>Dia mewarisi harta sejumlah 30.000 mark setelah kematian orangtuanya. Dia hidup bergantung pada uang ini selama tiga tahun. Suatu kali pada masa ini dia bepergian ke Napoli&#8211;tak seorang pun tahu untuk apa itu. Siapa pun yang mencoba berbicara dengannya hanya menerima gumaman tak terpahami sebagai jawaban.</p>
<p>Ketika dia telah menghabiskan seluruh uang warisan itu, dia merobek-robek dan melubangi seluruh sketsa yang pernah dibuatnya, memanjat puncak menara pemancar sebuah stasiun televisi setinggi 139 meter, dan melompat. Namun, karena angin bertiup sangat kencang pada hari itu, dia tak jatuh membentur lapangan tanah liat di bawah menara. Alih-alih, dia terbawa angin melintasi sebuah padang gandum dan terdampar di tepi hutan setelah membentur pohon-pohon besar. Dia tewas seketika.</p>
<p>Tabloid-tabloid picisan menyambut peristiwa ini dengan penuh syukur. Kasus bunuh diri ini, rute terbawa angin yang tak biasa, fakta bahwa ini terjadi pada seorang perempuan seniman muda yang pernah amat menjanjikan&#8211;semua itu membuatnya menjadi berita menggemparkan dan laku.</p>
<p>Saat flatnya diperiksa, kondisinya amat kacau. Ribuan botol kosong berserakan; tanda-tanda keruntuhan tampak di mana-mana; sketsa-sketsa terkoyak; gumpalan lilin mainan menodai dinding; bahkan ada bekas tinja menumpuk di sudut-sudut ruangan!</p>
<p>Koran-koran bukan hanya meliputnya di berita utama halaman satu, tapi juga menjadi kepala berita halaman dua dan tambahan reportase di halaman tiga!</p>
<p>Di rubrik ulasan sebuah koran, sang kritikus yang tadi sempat kita sebut menulis satu paragraf singkat yang merenungkan mengapa perempuan muda itu mengalami akhir yang menyedihkan. Dia menulis, &#8220;Sekali lagi kita menyaksikan&#8211;setelah terjadinya sebuah sebuah peristiwa mengejutkan&#8211;seorang muda yang berbakat tak mampu memiliki kekuatan untuk menyesuaikan diri di panggung kehidupan. Tidak cukup bila seorang seniman memiliki dukungan publik dan inisiatif pribadi, tapi hanya sedikit pemahaman atas atmosfer seni. Pastilah benih dari akhir yang tragis ini telah ditanam sejak lama. Tidakkah itu bisa dicerna dari karya-karya awalnya yang naif? Itu mencerminkan agresi monomaniak yang melanda diri sendiri dan dorongan introspektif yang berkubang menjemukan serupa spiral di dalam batin&#8211;dua-duanya sungguh emosional dan tak berguna, sekaligus mencerminkan pemberontakan terhadap takdir. Saya menyebutnya kehendak-memiliki-kedalaman yang berakhir secara fatal.&#8221;<strong><br />
</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong>Patrick Suskind</strong> adalah penulis Jerman. Novelnya, <em>Das Parfum</em>, telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Cerita di atas dialihbahasakan oleh Anton Kurnia dari terjemahan Inggris, Peter Howarth.</p>
<p><em>Sumber</em>: <a href="http://korantempo.com/korantempo/koran/2011/01/23/Cerpen/krn.20110123.224885.id.html" rel="nofollow">Koran Tempo</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zeventina.com/2011/10/16/cerpen-patrick-suskind/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kangen (WS. Rendra)</title>
		<link>http://www.zeventina.com/2011/10/11/kangen-ws-rendra/</link>
		<comments>http://www.zeventina.com/2011/10/11/kangen-ws-rendra/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 16:59:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[WS. Rendra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.zeventina.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku, menghadapi kemerdekaan tanpa cinta, Kau tak akan mengerti bagaimana lukaku, karena cinta tlah menyembunyikan pisaunya, Membayangkan wajahmu adalah siksa, kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan, Engkau telah menjadi racun bagi [...]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><a href="http://www.zeventina.com/wp-content/uploads/2011/10/2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-114" title="illustrasi cerpen15" src="http://www.zeventina.com/wp-content/uploads/2011/10/illustrasi-cerpen15.png" alt="" width="450" height="338" /><br />
</a></p>
<p>Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku,<br />
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta,<br />
Kau tak akan mengerti bagaimana lukaku,<br />
karena cinta tlah menyembunyikan pisaunya,<br />
Membayangkan wajahmu adalah siksa,<br />
kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan,<br />
Engkau telah menjadi racun bagi darahku,<br />
Apabila aku dalam kangen dan sepi, itulah berarti<br />
Aku tungku tanpa Api</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.zeventina.com/2011/10/11/kangen-ws-rendra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
